Prasasti Batu Tulis Ciaruteun

(0 Reviews)
prasasti batu tulis ciaruteun
Write a Review 0 Favorites

Prasasti Batu  Tapak Ciaruteun terletak di Desa Ciaruteun Ilir, kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Lokasi ini terletak sekitar 19 km dari pusat kota Bogor. Tempat ditemukannya prasasti ini merupakan bukit (bahasa Sunda: pasir) yang diapit oleh tiga sungai: Ci Sadane, Ci Anten dan Ci Aruteun. Sampai abad ke-19, tempat ini masih dilaporkan sebagai Pasir Muara, yang termasuk dalam tanah swasta Tjampéa (Ciampea, namun sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang). Tak jauh dari prasasti ini, masih dalam kawasan Ciaruteun terdapat Prasasti Kebonkopi I. Menurut Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara parwa 2, sarga 3, halaman 161 disebutkan bahwa Tarumanagara mempunya rajamandala (wilayah bawahan) yang dinamai “Pasir Muhara”.

Prasasti ini ditemukan pada tahun 1836 di Hindia Belanda (Indonesia pada zaman penjajahan Belanda). Pada tahun 1893 karena adanya banjir besar prasasti ini terbawa hanyut beberapa meter dari tempat awalnya dan bagian prasasti yang terdapat tulisan pun berubah menjadi terbalik ke bawah, kemudian pada tahun 1903 batu prasasti ini kembali dipindahkan ke tempat semula. Kemudian pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memindahkan kembali prasasti ke tempat yang lebih aman agar terhindar dari terjangan banjir. Selain itu sekarang tempat prasasti Batu Ciaruteun telah diindungi bangunan berbentuk pendopo agar terlindung dari cuaca dan tangan-tangan jahil manusia yang dapat merubah keaslian prasasti tersebut. Replika cetakan resin dari prasasti ini kini disimpan di tiga museum, yaitu Museum Nasional Indonesia dan Museum Sejarah Jakarta di Jakarta dan Museum Sri Baduga di Bandung.

Isi dari Prasasti Batu Ciaruteun merupakan goresan aksara resin dari prasasti ini kini disimpan di tiga museum, yaitu Museum Nasional Indonesia dan Museum Sejarah Jakarta di Jakarta dan Museum Sri Baduga di Bandung. Dan terdapat tulisan “vikkrantasyavanipat eh srimatah purnnavarmmanah tarumanagarendrasya visnoriva padadvayam” yang artinya “Inilah (tanda) sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu (pemelihara) ialah telapak yang mulia sang Purnnawarman, raja di negri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

Cetakan telapak kaki ini merupakan lambang kekuasaan seorang raja atas daerah tersebut. Hal ini berarti menegaskan kedudukan Purnawarman yang diibaratkan Dewa Wisnu dan dianggap sebagai penguasa sekaligus pelindung rakyat. Penggunaan cetakan telapak kaki pada masa itu mungkin dimaksudkan sebagai tanda keaslian, pada zaman sekarang mungkin fungsinya sama dengan tanda tangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *